BINCANGAN PAGI PEJATEN

Penulis : Khodimul qoryah
(Geus Kilayugung / Pegiat Desa)

 

Ngopi : Ngobrol Apapun Demi Negeri

UNTUK APA ADA PENDAMPING DESA ?

Seperti pagi-pagi yang telah dilewati, warga “Apartement” Pejaten mulai beraktivitas; membersihkan diri, seduh kopi, buat atau beli makanan untuk sarapan sekedarnya. Adegan biasanya dilanjutkan dengan bercengkrama atau dalam istilah légégnya diskusi. Pagi itu tak sekomplit pagi-pagi lainnya dengan riuh rendah suara bersahutan, kepulan asap dari batang-batang tembakau beraneka ragam. Jum’at 24 November 2017 pagi itu, hanya berdua penulis dan Kang Lilik Ahmad saja yang melibatkan diri pada aktivitas rutinan pagi.

Pembicaraan selalu dimulai dari ngagosipkeun kaayaan nagara. Kemudian mengkerucut pada apa-apa yang saat ini menjadi ranah dan ruang lingkup gugus tugas pribadi-pribadi para pembicara. Pagi itu sampailah pada sebuah diskursus mengenai pendampingan (baca : Pendamping Desa). Satu dimensi aktivitas yang mungkin saat ini sedang terlihat sexy – sexynya dipandang dari tiap sudut manapun.

“Jika kemarin diawal-awal penugasan di sini, saya belum berani menjawab pertanyaan mendasar terkait untuk apakah Pendamping Desa dihadirkan di desa – desa ? “ tiba-tiba beliau berujar, kemudian “Sekarang saya berani dan sedikit banyak tau lah untuk apakah itu sebenarnya?” terlihat ekspresi optimis dari caranya menghisap dan mengepulkan asap rokok.

Selama ini penulis hanya baru sebatas dan selalu mengedepankan bahwa semua itu terkait Pendamping Desa (Konsultan Nasional, KPW, TA Provinsi, TAPM Kab/Kota, PD dan PLD) adalah semata-mata “Tim Sukses” Program Pemberdayaan Masyarakat Desa, disamping tentunya sebagai upaya mengawal Implementasi Program dalam hal ini UU Desa dan anak cucunya berupa Peraturan Mentri terkait, PerGub, PerBup, hingga PerDes dll yang berhubungan.

Kang Lilik tidak sedikitpun membantah persepsi penulis di atas. Akan tetapi lantas satu dua kalimat tambahan argumentasi yang keluar melalui bibirnya yang berbarengan dengan menyeruaknya asap dari mulutnya adalah satu hal yang jujur penulis katakan selalu terlupakan dari benak dan sanubari.

“Itu iya….dan satu hal yang jangan dilupakan adalah kita semua Pendamping Desa mempunyai satu tugas dan tujuan Menjaga Marwah Kementrian Desa” tegasnya.

Sekilas…ah hal itu pastinya semua sudah mengetahui. Ya sayangnya kita mungkin baru sebatas mengetahui tanpa benar-benar meresapi dan menyadari terlebih menjaganya. Bisa jadi karena berbagai alasan sebagai Pendamping Desa atau Konsultan untuk sebutan beken di Tingkat Nasional dan Tenaga Ahli di Provinsi dan Kabupaten/Kota, secara tidak sadar melakukan hal yang kontraproduktif dengan proses Penjagaan Marwah Kementrian Desa tersebut.

Gaji telat, keruwetan banyaknya regulasi yang berbenturan, serta berbagai instruksi pekerjaan administrasi termasuk urusan medsos (hehe) bisa jadi beberapa hal bagi Pendamping Desa yang kebetulan mentalnya sedang labil tidak fokus, akan menjadi alasan untuk lepas kendali dari menjaga marwah Kementrian Desa ini.  Ketika ada pihak-pihak yang mendeskreditkan Kementrian Desa terutama program-program dan progressnya, Sang Pendamping Desa bukan lantas memberikan counter argument beserta data dan fakta, malah terbawa arus.

Proses menjaga marwah Kementrian Desa bukan dimaksudkan anti kritik, anti masukan. Tetapi lebih kepada seberapa dalam kita Pendamping Desa secara penuh dan utuh berperan sebagai ”wakil terdekat” Kementrian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi di tengah-tengah masyarakat desa dampingannya.

 

Wallohu a’lam